Portal Berita Islam Terpercaya

Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN ISLAM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Desember 2016

Berita Hari Ini : Tetap Beri’dad Meski Belum Diserang



Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa umat Islam ini akan senantiasa ada yang memusuhinya, mengintainya, meneror, menebar kerusakan pada umat Islam serta membuat umat bercerai berai. Puncaknya hingga mereka mampu mengeluarkan umat Islam dari agamanya, dan hal inilah yang menjadi tujuan utama mereka. Sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Qur’an

وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“…Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Q.S Al-Baqarah: 217).

Dalam ayat yang lain juga disebutkan

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya mencelakakanmu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Q.S Ali-Imran: 118).

Allah juga telah memberitahu bahwa musuh-musuh Islam sangat membenci kaum muslimin. Mereka tidak akan pernah rela terhadap apa yang dilakukan oleh umat Islam selama mereka masih berpegang teguh terhadap agamanya. Mereka akan terus berusaha sekuat tenaga, menguras hartanya agar bisa menundukkan kaum muslimin di bawah agama mereka. Hal ini telas ditegaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, di antaranya,

Allah berfirman, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha kepada kalian sehingga kalian mengikuti agama mereka…” (Q.S Al-Baqarah: 120)

Dalam ayat lain disebutkan, “Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman, dikarenakan dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri…” (Q.S Ql-Baqarah: 109)

Dari beberapa nash di atas dapat dicerna bahwa seluruh kaum muslimin yang berpegang teguh pada agamanya sedang terancam. Dari pihak musuh yang senantiasa membuat makar dan tipu daya agar bisa mewujudkan tujuannya, yaitu mengeluarkan umat Islam dari agamanya serta tunduk dibawah kekuasaannya.

I’dad Amalan Penggentar Musuh



Maka, tidak ada solusi yang lebih pantas untuk permasalahan ini selain dengan menegakkan syariat jihad (dalam definisi secara syar’i) yakni mengerahkan jerih payah dalam rangka menegakkan kalimat Allah menjadi yang tertinggi, serta syari’at-Nya berkuasa di muka bumi. Demi menepis segala kemungkinan yang dapat membahayakan serta menimbulkan kerugian terhadap kaum muslimin, lebih-lebih terhadap agamanya.

Namun, jauh sebelum itu umat Islam telah diperintahkan oleh Allah untuk bersiap siaga dengan mempersiapkan diri terhadap musuh-musuhnya, karena bisa jadi pihak musuh melakukan penyerangan secara mendadak tanpa mengenal waktu dan kondisi. Sebagaimana firman-Nya,

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ….

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya…”(Q.S Al-Anfal: 60)

Syaikh Dr Wahbah az-Zuhaili seorang ulama kotemporer menjelaskan tentang ayat ini bahwa, “Allah memerintahkan kaum mukminin agar mempersiapkan alat-alat peperangan yang sesuai dengan zamannya dan melatih para pejuang hingga benar-benar matang. Sebab, mereka adalah baju besinya (zirah) umat ini dan bentengnya yang paling kuat.”

Beliau melanjutkan, “Tujuan dari persiapan itu adalah untuk mengintimidasi musuh Allah dan musuh kaum muslimin, dari orang-orang kafir yang menampakkan permusuhan mereka, sebagaimana kaum musyrikin Makkah di masa lalu. Juga, untuk mengintimidasi para sekutu musuh yang bersembunyi. Baik kita mengetahuinya ataupun tidak, tapi Allah Sang Maha Mengatahui Yang Gaib pasti mengetahui mereka. Termasuk di antaranya adalah Yahudi dan orang-orang munafiq di masa lalu, serta siapa saja yang menampakkan permusuhannya setelah itu seperti Persi, Romawi dan para pewaris mereka yang tersebar di negara-negara dunia pada masa ini.” (Tafsir Al-Munir, hal.293-294).

Mencegah Lebih Baik Dari Pada Mengobati

Para ulama dengan jerih payahnya telah berhasil merangkum sebuah kaidah dari ayat di atas yaitu, الضَّرَرُ يُدْفَعُ بِقَدْرِ الْإِمْكَانِ (Madharat itu harus dihilangkan sebisa mungkin). Kaidah ini menjelaskan akan kewajiban mencegah adanya bahaya sebelum kedatangannya. Dengan menggunakan segala prasarana yang tersedia beserta kemungkinan-kemungkinan tertentu yang sekiranya mampu menghilangkan madharat tersebut.

Kaidah ini juga selaras dengan mashlahah mursalah dan siyasah syar’iyyah yaitu pada kategori ‘Mencegah itu lebih baik dari pada mengobati’. Tentunya hal tersebut sesuai dengan kemampuan individual. Sebab, pembebanan syariat Islam itu beriringan dengan adanya qudrah (kemampuan) dalam pelaksanaannya. (Muhammad bin Ahmad al-Burnu, al-Wajiz fi Idhahil Qawa’idil Fiqh al-Kuliyyah, hal.256).

Dengan kaidah ini, serangan musuh adalah sebuah madharat yang harus dicegah sebelum kedatangannya. Maka, pencegahan yang dilakukan adalah dengan i’dad sebagaimana penjelasan di atas, yang dengannya serangan yang akan dilancarkan oleh pihak musuh kepada kaum muslimin menjadi tercegah. Walaupun nantinya serangan tetap dilancarkan umat telah siap menghadapinya, siap berjihad dalam rangka membela agama, umat serta wilayah kaum muslimin.

Penyimpangan Makna Jihad Hakiki

Namun, hari ini telah populer di kalangan sebagian kaum muslimin bahwa berperang melawan musuh adalah jihad yang kecil (al-jihad al-ashghar), dan masih terdapat jihad lain yang lebih besar, yaitu jihadun-nafs (jihad melawan hawa nafsu). Banyak di antara mereka yang mendasarkan pendapat tadi pada hadis; “Kita telah kembali dari jihad yang kecil menuju jihad yang besar,” ujar Nabi bersabda. Para sahabat bertanya: “Apakah jihad yang besar itu?” “Yaitu jihad hati atau jihad hawa nafsu,” tegas Nabi.

Atas dasar hadits tersebut, sebagian kalangan berupaya mengalihkan fokus kaum muslimin dari pentingnya mengobarkan perlawanan dan bersiap-siaga perang, serta membulatkan tekad dan mempersiapkan strategi jihad. Ditilik dari segi validitasnya, atsar tersebut bukanlah hadits Nabi ﷺ. Terkait hal ini, Ibnu Hajar al-Asqolani, seorang Amirul Mukminin fil Hadits, di dalam kitab Tasdidul Qaus, menyatakan bahwa atsar tersebut sangat populer dalam lisan kaum muslimin, akan tetapi itu adalah kata-kata Ibrahim bin ‘Ailah.

Menurut al-‘Iraqi dalam Takhrij Ahaditsil Ihya’, atsar tersebut dikutib oleh al-Khatib al-Baghdadi melalui sanad jalur Jabir. Menurut al-Khatib atsar tersebut, seandainya memang sahih (bersumber dari Nabi), tidak berarti menafikan jihad dan siap-siaga perang, karena umat Islam harus melindungi negeri mereka dan menangkis setiap agresi kaum kafir; dan atsar ini tiada lain memiliki makna bahwa setiap muslim wajib melawan hawa nafsunya sampai ia bisa bersikap ikhlas dalam setiap amalnya. (Al-Maududi, Hasan al-Banna, dan Sayyid Quthb, Penggetar Iman Di Medan Jihad, alih bahasa: Mahmud Muchtarom, hal.131-132)

Kesimpulan

Yang namanya kebenaran akan senantiasa dibuntuti oleh kebatilan. Setiap langkah pergerakannya selalu dalam pengitaian para penghasung kebatilan. Mereka tidak akan pernah rela terhadap ahlul Haq karena keimanannya. Mereka akan senantiasa membuat makar dan tipu daya demi melenyapkan kebenaran dari muka bumi. Maka, walaupun secara mata telanjang belum terlihat adanya penyerangan, bukan berarti kita bisa duduk manis menjalani aktifitas kehidupan, tetap melakukan persiapan secara matang, karena sedia payung sebelum hujan lebih baik dari pada mencari payung kala diguyur hujan.

Penulis: Asy-Syathiri / Yanisari Teams

Editor : Arju

















Jumat, 16 Desember 2016

Berita Hari Ini : Ghirah dan tantangan terhadap Islam ” Buya Hamka “

Ghirah dan tantangan terhadap Islam ” Buya Hamka “

ghirah-dan-tantangan-terhadap-islam-buya-hamka
GHIRAH : Mungkin banyak yang sudah melupakan buku Ghirah dan Tantangan Terhadap Islam karya Buya Hamka. Buku itu memang tipis saja, nampak tidak sebanding dengan koleksi masif seperti Tafsir Al Azhar, namun tipisnya buku tidak identik dengan kurangnya isi, apalagi pendeknya visi. Sesuai judulnya, buku tersebut membahas masalah-masalah seputar ghirah dengan bercermin pada kasus-kasus yang terjadi di Indonesia. Meskipun buku ini diterbitkan pada awal tahun 1980-an, pada kenyataannya masih banyak pelajaran yang dapat kita ambil untuk dipraktekkan dalam kehidupan di masa kini.
Buya Hamka memulai uraiannya dengan sebuah kasus yang dijumpainya di Medan pada tahun 1938. Seorang pemuda ditangkap karena membunuh seorang pemuda lain yang telah berbuat tidak senonoh dengan saudara perempuannya. Sang pemuda pembunuh itu pun dihukum 15 tahun penjara. Akan tetapi, tidak sebagaimana narapidana pada umumnya, sang pemuda menerima hukuman dengan kepala tegak, bahkan penuh kebanggaan. Menurutnya, 15 tahun di penjara karena membela kehormatan keluarga jauh lebih mulia daripada hidup bebas 15 tahun dalam keadaan membiarakan saudara perempuannya berbuat hina dengan orang.
BACA SELENGKAPNYA KAOS MOTIVASI
Dalam sejarah peradaban Indonesia, suku-suku lain pun memiliki semangat yang tidak kalah tingginya dalam menebus kehormatan. Menurut Hamka, bangsa-bangsa Barat sudah lama mengetahui sifat ini. Mereka telah berkali-kali dikejutkan dengan ringannya tangan orang Bugis untuk membunuh orang kalau kehormatannya disinggung. Demikian pula orang Madura, jika dipenjara karena membela kehormatan diri, setelah bebas dari penjara ia akan disambut oleh keluarganya, dibelikan pakaian baru dan sebagainya. Orang Melayu pun dikenal gagah perkasa kalau sampai harga dirinya disinggung. Bila malu telah ditebus, biasanya mereka akan menyerahkan diri pada polisi dan menerima hukuman yang dijatuhkan dengan baik.
Di masa lalu, anak-anak perempuan di ranah Minang betul-betul dijaga. Para pemuda biasa tidur di surau untuk menjaga kampung, salah satunya untuk menjaga agar anak-anak gadis tidak terjerumus dalam perbuatan atau pergaulan yang menodai kehormatan kampung. Pergaulan antara lelaki dan perempuan dibolehkan, namun ada batas-batas tegas yang jangan sampai dilanggar. Kalau ada minat, boleh disampaikan langsung kepada orang tua.
Di jaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. dulu pernah ada juga kejadian dahsyat yang berawal dari suatu peristiwa (yang mungkin dianggap) kecil saja. Seorang perempuan datang membawa perhiasannya ke seorang tukang sepuh Yahudi dari kalangan Bani Qainuqa’. Selagi tukang sepuh itu bekerja, ia duduk menunggu. Datanglah sekelompok orang Yahudi meminta perempuan itu membuka penutup mukanya, namun ia menolak. Tanpa sepengetahuanny a, si tukang sepuh diam-diam menyangkutkan pakaiannya, sehingga auratnya terbuka ketika ia berdiri. Jeritan sang Muslimah, yang dilatari oleh suara tawa orang-orang Yahudi tadi, terdengar oleh seorang pemuda Muslim. Sang pemuda dengan sigap membunuh si tukang sepuh, kemudian ia pun dibunuh oleh orang-orang Yahudi. Perbuatan yang mungkin pada awalnya dianggap sebagai candaan saja, dianggap sebagai sebuah insiden serius oleh kaum Muslimin. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. pun langsung memerintahkan pengepungan kepada Bani Qainuqa’ sampai mereka menyerah dan semuanya diusir dari kota Madinah.
BACA SELENGKAPNYA KAOS DAKWAH
Itulah ghirah, yang diterjemahkan oleh Buya Hamka sebagai “kecemburuan”.
Penjajahan kolonial di Indonesia membawa masuk pengaruh Barat dalam pergaulan muda-mudi bangsa Indonesia. Pergaulan lelaki dan perempuan menjadi semakin bebas, sejalan dengan masifnya serbuan film-film Barat. Batas aurat semakin berkurang, sedangkan kaum perempuan bebas bekerja di kantor-kantor. Demi karir, mereka rela diwajibkan berpakaian minim, sedangkan keluarganya pun merasa terhormat jika mereka punya karir, tidak peduli bagaimana caranya.
Tidak ada lagi kecemburuan.
Tidak ada yang boleh marah melihat anak perempuannya digandeng pemuda yang entah dari mana datangnya. Suami harus lapang dada kalau istrinya pergi bekerja dengan standar berpakaian yang jauh dari syariat, karena itulah yang disebut “tuntutan pekerjaan”.
BACA SELENGKAPNYA KAOS COUPLE
Sesungguhnya ghirah itu merupakan bagian dari ajaran agama. Pemuda Muslim yang membela saudarinya dari gangguan orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ menjawab jerit tangisnya karena adanya ikatan aqidah yang begitu kuat. Menghina seorang Muslimah sama dengan merendahkan umat Islam secara keseluruhan.
Ghirah adalah konsekuensi iman itu sendiri. Orang yang beriman akan tersinggung jika agamanya dihina, bahkan agamanya itu akan didahulukan daripada keselamatan dirinya sendiri. Bangsa-bangsa penjajah pun telah mengerti tabiat umat Islam yang semacam ini. Perlahan-lahan, dikulitinyalah ghirah umat. Jika rasa cemburunya sudah lenyap, sirnalah perlawanannya.
Buya Hamka mengkritik keras umat Muslim yang memuji-muji Mahatma Gandhi tanpa pengetahuan yang memadai. Gandhi memang dikenal luas sebagai tokoh perdamaian yang menganjurkan sikap saling menghormati di antara umat beragama, bahkan ia pernah mengatakan bahwa semua agama dihormati sebagaimana agamanya sendiri. Pada kenyataannya, Gandhi berkali-kali membujuk orang-orang dekatnya yang telah beralih kepada agama Islam agar kembali memeluk agama Hindu. Kalau tidak dituruti keinginannya, Gandhi rela mogok makan. Itulah sikap sejatinya, yang begitu cemburu pada Islam, sehingga tidak menginginkan Islam bangkit, apalagi memperoleh kemerdekaan dengan berdirinya negara Pakistan.
BACA SELENGKAPNYA KAOS POLOS
Dua dasawarsa lebih berlalu dari wafatnya Hamka, nyatalah bahwa hilangnya ghirah adalah salah satu masalah terbesar yang menggerogoti umat Islam di Indonesia. Sekarang, orang tua pun rela menyokong habis-habisan anak perempuannya untuk menjadi mangsa dunia hiburan. Para ibu mendampingi putri-putrinya mendaftarkan diri di kontes-kontes model dan kecantikan , yang sebenarnya hanya nama samaran dari kontes mengobral aurat.
Kalau kepada putri sendiri sudah lenyap kepeduliannya, kepada agamanya pun begitu. Makanan fast food dikejar karena prestise, tak peduli keuntungannya melayang ke Israel untuk dibelikan sebutir peluru yang akhirnya bersarang di kepala seorang bayi di Palestina. Kalau dulu seluruh kekuatan militer umat Islam dikerahkan untuk mengepung Bani Qainuqa’ hanya karena satu Muslimah dihina oleh tukang sepuh, maka kini jutaan perempuan Muslimah diperkosa, jutaan kepala bayi diremukkan dan jutaan pemuda dibunuh, namun tak ada satu angkatan bersenjata pun yang datang menolong.
BACA SELENGKAPNYA DESAIN KAOS
Luar biasa generasi anak-cucu Buya Hamka, karena mereka telah benar-benar mati rasa dengan agamanya sendiri. Ketika anak-anak muda dibombardir dengan pornografi, maka umatlah yang dipaksa diam dengan alasan kebebasan berekspresi. Tari-tarian erotis digelar sampai ke kampung-kampung yang penduduknya tak punya cukup nasi di dapurnya, hingga yang terpikir oleh mereka hanya jalan-jalan yang serba pintas. Ramai orang mengaku nabi, sementara para pemuka masyarakat justru menyuruh umat Islam untuk berlapang dada saja. Padahal yang mengaku-ngaku nabi ini ajarannya tidak jauh berbeda: syariat direndahkan, kewajiban-kewaj iban dihapuskan, para pengikut disuruh mengumpulkan uang tanpa peduli caranya, orang lain dikafirkan, bahkan para pengikutnya yang perempuan disuruh memberikan kehormatannya pada sang nabi palsu. Atas nama Hak Asasi Manusia, umat disuruh rela berbagi nama Islam dengan para pemuja syahwat.
Atas nama toleransi, dulu umat Islam digugat karena penjelasan untuk Surah Al-Ikhlash dalam buku pelajaran agama Islam dianggap melecehkan doktrin trinitas. Kini, atas nama pluralisme, umat Islam dipaksa untuk mengakui bahwa semua agama itu sama-sama baik, sama-sama benar, dan semua bisa masuk surga melalui agamanya masing-masing. Maka pantaslah bagi kita untuk merenungkan kembali pesan Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar ketika menjelaskan makna dari ayat ke-9 dalam Surah Al-Mumtahanah:
…orang yang mengaku dirinya seorang Islam tetapi dia berkata; “Bagi saya segala agama itu adalah sama saja, karena sama-sama baik tujuannya.” Orang yang berkata begini nyatalah bahwa tidak ada agama yang mengisi hatinya. Kalau dia mengatakan dirinya Islam, maka perkataannya itu tidak sesuai dengan kenyataannya. Karena bagi orang Islam sejati, agama yang sebenarnya itu hanya Islam.
BACA SELENGKAPNYA KAOS DISTRO
“Kecemburuan adalah konsekuensi logis dari cinta. Tak ada cemburu, mustahil ada cinta.”
Dan apabila Ghirah telah tak ada lagi, ucapkanlah takbir empat kali ke dalam tubuh ummat Islam itu. Kocongkan kain kafannya lalu masukkan ke dalam keranda dan hantarkan ke kuburan. (Buya Hamka)
“Wahai yang bersemangat lemah, sesungguhnya jalan ini padanya Nuh menjadi tua, Yahya dibunuh, Zakariya digergaji, Ibrahim dilemparkan ke api yang membara, dan Muhammad disiksa, dan engkau menginginkan Islam yang mudah, yang mendatangi kedua kakimu?”
~ Ibnu Qayyim al-Jauziyah ~

– See more at: arrahmah.com

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.