Portal Berita Islam Terpercaya

Selasa, 06 Desember 2016

KH. Muhammad Al Khaththath: “Aksi Bela Islam 212 Adalah Aksi Paling Dahsyat Selama 30 Tahun Saya Berjuang Di Pergerakan!”

Ahad, 4 Desember 2016

Jakarta – Sekretaris Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) KH. Muhammad Al Khaththath turut memberikan ceramah pada acara pengajian bulanan FPI di Markaz Syariah FPI Petamburan Tanah Abang Jakarta Pusat, Ahad pagi 4/12/2016.

Ustadz Khaththath yang juga merupakan Sekjen MuslimCyber.id (FUI) ini menyatakan kekaguman dan rasa syukurnya atas kesuksesan luar biasa Aksi Bela Islam III Hari Jum’at 2/12/2016 yang dihadiri oleh sekitar delapan juta orang lebih.

Kyai Khaththath: “Saya sudah 30 tahun lebih berjuang di pergerakan. Aksi Bela Islam 212 ini adalah yang paling dahsyat!”.

Ustadz Khaththath menyanggah pendapat yang menyatakan umat Islam di Indonesia itu hanya bagaikan buih di lautan, jumlahnya banyak namun tidak berarti.

Beliau mengatakan kalau umat Islam cuma bagaikan buih tentu tidak ada aksi jalan kaki muslim Ciamis, muslim Bogor dan lain-lain menuju Jakarta untuk mengikuti Aksi Bela Islam III. Hal ini menunjukkan ghirah umat Islam di Indonesia untuk membela agamanya masih sangat tinggi.

“Kita beri peringatan kepada pemerintah untuk mengusut kasus penistaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Ahok ini sudah sebanyak tiga kali. Sudah tiga kali kita lakukan Aksi Bela Islam. Kalau sampai tiga kali kita peringati tetapi Ahok tetap tidak ditahan berarti hal yang lebih besar lagi harus dilakukan.”

Ustadz Khaththath menyatakan kini pandangan orang-orang telah banyak berubah drastis terhadap FPI. Sampai setahun lalu masih banyak yang nyinyir terhadap FPI, bahkan dari pimpinan ormas-ormas besar. Namun alhamdulillah kini sudah banyak berubah.

Beliau menyatakan GNPF-MUI dibentuk secara sederhana oleh para ulama. Bahkan penunjukan Ustadz Bachtiar Nasir sebagai ketua GNPF-MUI juga dipilih begitu saja oleh para ulama, tanpa ada munas-munasan segala.

Ini bukti keikhlasan dari para ulama dan semua unsur yang terlibat dalam GNPF-MUI. Semua tidak ada yang mencari jabatan tapi hanya mematuhi perintah para Ulama. Demikian pemaparan Ustadz Khaththath.

Lalu sambil berseloroh Ustadz Khaththath mengatakan: “Artis-artis saja kemarin ikut hadir di Aksi Bela Islam 212 termasuk si Wiro Sableng. Masa’ kita kalah? Selain itu ada pula pesulap Limbad, dan Titiek Soeharto yang seorang konglomerat bahkan sampai rela berjalan kaki, semuanya ikut Aksi Bela Islam 212, dan banyak lagi artis-artis lainnya.”

“Dulu Habib Rizieq dibilang pemimpin untuk kalangan peci putih. Tapi sekarang yang peci putih, peci hitam, coklat bahkan yang gak pecian sudah satu komando dibawah pimpinan Habib Rizieq dan para ulama!”.

Puluhan ribu Jama’ah yang hadir di Markaz FPI Petampuran langsung meneriakkan takbir begitu Kyai Khaththath berkata demikian.

“Saya mengusahakan Jokowi datang ke Aksi Bela Islam III 212. Tujuannya supaya ia bisa mendengarkan ceramah dan tausiyahnya Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. Dan alhamdulillah atas izin Allah Jokowi hadir dan ikut mendengarkan ceramah Habib Rizieq.”

Ustadz Khaththath kemudian mengatakan bahwa benar seperti yang sering dikatakan oleh Habib Rizieq, ayat suci itu berada di atas ayat konstitusi. Jadi benar-benar sesat pemahaman yang Ahok berikan bahwa ayat konstitusi berada diatas ayat suci.

Ustadz Khaththath menyatakan saat ia bertemu KH. Syukron Makmun, ulama sepuh Madura dan NU sekitar setahun lalu, Kyai Syukron mengatakan: “Udah bukan jamannya lagi saya jadi imam, jadi pemimpin, sekarang imamnya adalah Habib Rizieq.”

Ustadz Khaththath menambahkan: “Jadi kita gak perlu risau kalau KH. Ma’ruf Amin tidak bisa datang di Aksi Bela Islam, saya mempersilahkan Kyai Ma’ruf tidak datang, karena itu berarti beliau mempersilahkan Habib Rizieq yang menjadi Imam, menjadi pemimpin.”

Ustadz Khaththath kemudian kembali menyatakan rasa syukurnya kepada Allah SWT atas sukses besar dan tumpah ruahnya warga NU ikut serta pada Aksi 212, padahal sudah dilarang oleh Ketua PBNU.

Ustadz Khaththath menyatakan bahwa Kyai Munahar ketua dewan tanfidz PWNU DKI Jakarta mengatakan: “Kami datang pada Aksi Bela Islam 3 walau PBNU melarang. Bahkan Aksi Bela Islam 4 apabila diadakan kami akan ikuti lagi, dan kembali kami akan kerahkan massa lagi”.

Kyai Munahar mengucapkan hal itu disamping Rais Syuriah PWNU DKI Jakarta KH. Mahfudz Asirun yang memang selama ini selalu istiqomah dalam menegakkan agama Allah, demikian penjelasan Kyai Khaththath.

Ustadz Khaththath: “Saya sebelumnya sempat khawatir tidak bisa hadir di Aksi Bela Islam 212, karena saya sebelumnya diundang ke Universitas Bung Karno. Namun alhamdulillah saya bisa ikut Aksi Bela Islam III. Yang gak ikut Aksi Bela Islam adalah orang-orang yang rugi!”.

Beliau melanjutkan: “Siapapun orangnya di Indonesia ini, mau dia nasionalis, polisi, guru dan sebagainya harus tunduk dibawah komando ulama.”

“Imam Sholat Jum’at pada Aksi 212 kemarin, KH. Nasir Zein doa qunutnya sangat panjang karena ini adalah Jum’at yang istimewa. Dan beliau mendoakan supaya ibukota di Jakarta dipimpin oleh pemimpin mukmin. Pak Jokowi mendengarkan itu semua, semoga beliau mengerti.”

“Hikmah terbesar dari Aksi 212 kemarin, saya liat ada presiden, tetapi presiden datang umat Islam biasa saja, tidak heboh. Beda dengan kedatangan para Ulama. Jadi terbukti umat Islam di Indonesia lebih menghargai para ulama.”

Ustadz Khaththath: “Kita masih ada tugas lagi seusai Aksi Bela Islam III ini. Yaitu kita harus mengawal kasus penistaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Ahok yang sebentar lagi akan memasuki masa persidangan.”

“Ayo Kita penuhi sidang pengadilan Ahok di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, walau dua pentolan Jakarta Utara bang Rijal dan Jamran sudah ditangkap. Kalau perlu 100 ribu orang yang hadir di pengadilan untuk mengawal kasus.”

Mengakhiri ceramahnya yang didengarkan dengan sangat antusias oleh para Jama’ah yang hadir, Ustadz Khaththath mengatakan: “Al-Qur’an Surat Al-Maidah Ayat 51 wajib pilih pemimpin muslim, haram memilih pemimpin non muslim apalagi penista agama. Insya Allah FUI akan segera menyebar pembatas Al-Qur’an yang isinya adalah Surat Al-Maidah 51.”

Foto: KH. Muhammad Al Khaththath saat memberikan ceramah pada pengajian bulanan FPI di MS FPI Petamburan Jakarta Pusat, Ahad 4/12/2016

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.